Senin, 16 Maret 2015

5 cara ampuh mengendalikan anak dari televisi


Sebagian dari kita mungkin sudah sering mengetahui akan dampak buruk televisi bagi anak-anak kita, dan dalam kesempatan ini kita akan mengingat  kembali bahaya televisi bagi keluarga kita.
Ada satu anggota keluarga tambahan dalam masyarakat modern yaitu televisi, hampir setiap rumah saat ini memelihara si kotak hitam yang sering dihujat tapi juga dicintai dengan beberapa alasan antaralain hiburan atau update informasi. Berikut adalah beberapa dampak televisi bagi anak-anak kita :
A.      Dampak kesehatan tubuh
1.       Pembuluh darah mata memiliki tekanan tebih tinggi
Para ilmuwan skotlandia meniliti anak dengan aktifitas menonton televisi dengan anak yang beraktifitasfisi, ternyata pembuluh darah mata anak yang memonton tv lebih tinggi tekanannya dibanding anak yang melakukan aktifitas fisik, walaupun hanya berbanding 1 jam.

2.       Obesitas
Kurangnya gerak fisik mengakibatkan otot tidak aktif dalam waktu lama sehingga mengakibatkan terganggunya metabolisme tubuh dan kenaikan berat badan.

B.      Dampak perkembangan otak
1.       Televisi menjadikan otak pasif
Dengan televisi otak tidak terlatih berpikir karena hanya menerima dan menerima, sehingga melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, menganalisa.
2.       Semakin banyak menonton televisi semakin sedkit bergerak.
Padahal  gerakan berfungsi menarik informasi-informasi yang baru  kedalam jaringan neuron otak kita. Gerakan sangat vital bagi anak karena semua tindakan menunjukan dan mengungkapkan pembelajaran dan pemahaman kita.

C.      Dampak perkembangan mental dan perilaku
1.       Attention Deficit Disorder (ADD)
ADD atau gangguan pemusatan perhatian/ konsentrasi dan sifat impulsive (betindak reaktif tanpa dipikirkan), bahkan beberapa anak menunjukan sifat hiperaktif. Penelitian d University of Washington Child Health Institute menemukan bahwa anak pada usia 3thn yang menonton tv 2jam/hari, 20% beresiko mengalami ganguan perhatian pada usia 7thn dibanding anak yang tidak menonton tv.
2.       Tumpulnya kepekaan (Desensitisasi)
Hilangnya rasa empati, munculnya perilaku kekerasan pada anak setelan menonton film-film perkelahian walaupun itu berjenis cartoon.  
3.       Munculnya associative Shifting (pikiran buruk terhadap sesuatu) yang padahal baik
Contoh : kita memaksa anak mematikank tv saat adzan magrib, padahal seringkali acara pada waktu itu sangat menarik bagi anak kita. Akibat secara psikis lama kelamaan munculnya associative Shifting pikiran buruk terhadap adzan. Awalnya anak menganggap adzan mengganggu, sholat magrib menyebalkan, lama kelamaan bias menganggap agama sebagai kekakuan, keterbelakangan atau kebosanan.

Lalu bagaimana mengendalikan anak dari televise????
Tidak ada tv di rumah kita atau menyediakan tv dengan pengendalian
Mengendalikan anak dari televise :
1.       Buat anak suka membaca
Cara paling ampuh beri contoh. Atau yang paling mudah sediakan waktu 15 menit sebelum tidur untuk membacakan buku sejak kecil, bahkan bayi, dengan buku bergambar dan lain-lain.
2.       Buatlah jam boleh menonton tv
Jika usia SD buatlah kesepakatan dengan anak walaupn tetap mempertimbangkan keamanan tayangannya, jika dibawah SD buatlah kebijakan. Setelah ada peraturan terse4but laksanakan dengan disiplin.
3.       Letakkan televise ditempat tidak nyaman
Agar tidak nyaman berlama-lama letakkan tv tanpa sofa didepannya, atau tampa kasur malas, atau dibawah tangga, atau didekat meja yang sempit, atau diruang dengan banyak barang. Maka anak anda tidak akan berlama-lama di depan tv.
4.       Bantu anak membuat kegiatan mandiri saat anda sibuk
Contohnya: mewarnai mainanya, menggunting daun, bermain dengan teman-teman dilingkungan rumah, menempel, aksi mirip mama (menyapu, mengelap perabotan rumah), menyusun buku atau kardus susu dll. Selamat berkreasi.
5.       Sediakan Waktu bersama anak minimal 15 menit
Bukan sekedar disamping anak tetapi kita dan anak terlibat aktifitas yang sama dengan komunikasi yang terbangun ( saatnya anak bicara dan kita mendengarkan).

Disarikan dari buku:
Positive Parenting oleh: Mohammad fauzil Adhim
Sudahkah aku jadi orang tua Shaleh? Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhori

Grosir-jeansanak.blogspot.com

Tidak ada komentar: